Minggu, 13 Februari 2011

MYOMa..MOMOK MENAKUTKAN BAGI SEORANG WANITA

Menikah adalah dambaan bagi setiap wanita. Entah itu impian baik ataupun sebalknya menjadi impian terburuk dari wanita  tersebut. Mereka menggenggam erat sebuah untain mutiara nan cantik di tangan mereka yaitu kebahagyaan dengan keluarganya. Namun saat mengetahui bahwa kesempatan hidupnya tinggal 25% lagi,,,dy beranggapan bahwa dunia ini sungguh tak adil. Ada kalanya mereka menderita, ada kalany mereka berpacu dengan waktu untuk mengatasi penyakit yang menggerogotinya, sebut saja kanker MYOma...

Myoma adalah suatu tumor jinak yang berasal dari otot rahim, karena itu lengkapnya disebut myoma uteri untuk membedakannya dengan myoma dari jaringan otot yang lain.

Ada tiga macam dilihat dari tempat tumbuhnya yaitu :
1.Myoma sub serosa, tumbuh keluar dinding rahim, bahkan bisa mempunyai tangkai
2.Myoma intra mural, tumbuh didalam dinding rahim
3.Myoma sub mucosa, tumbuh kedalam rongga rahim, bisa juga bertangkai bahkan sampai keluar kejalan lahir (disebut myom terlahir = myom geburt)

Myoma uteri bukanlah kanker, tetapi bisa menimbulkan banyak masalah, a.l. kemandulan, perdarahan melalui jalan lahir, akibat2 mekanis karena penekanan tumor terhadap jaringan sekitarnya seperti usus, kandung kencing. Karena itulah kerapkali harus diambil tindakan pengobatan terhadap myoma tsb.

Cara pengobatan bisa operasi atau mengggunakan terapi hormonal atau kombinasi keduanya. Cara pengobatan hormonal berdasarkan pengetahuan bahwa myoma sangat dipengaruhi oleh hormon wanita yaitu hormon estrogen; tetapi perlu diingat bahwa terapi hormonal tidak menghilangkan myoma tetapi hanya mengecilkan ukuran myoma tsb!
Jadi keuntungan terapi hormonal adalah mempermudah tindakan operasi.

Masalahnya, kapan saatnya untuk melakukan operasi pengangkatan myoma ?
Hal ini diputuskan setelah mempertimbangkan faktor2 : usia pasien, fungsi reproduksinya, keluhan dan akibat yang ditimbulkan oleh myoma tsb dan tentu saja keadaan sosio-ekonomi pasien untuk menentukan pilihan cara pengobatan, tentu juga dipertimbangkan kemampuan operator dan sarana yang dimiliki oleh sang operator.

Secara garis besar, bila ukuran myoma cukup besar (biasanya patokan yg dipakai adalah lebih besar dari kehamilan 12 minggu), keluhan dan gejala yang ditimbulkan sudah mengganggu bahkan membahayakan (yang paling sering adalah perdarahan per vagina); maka sebaiknya diputuskan untuk melakukan operasi pengangkatan myoma! Bila yang dibuang hanya jaringan myoma saja disebut tehnik myomectomy, bila dibuang seluruh rahim disebut hysterectomy; biasanya myomectomy dipilih bila fungsi reproduksi masih diperlukan walaupun tidak semua myom bisa dilakukan myomectomy saja dan terpaksa harus dilakukan total hysterectomy.

Dan tahukah anda mengapa kita bisa terjangkit hal tersebut??????
1. Kemungkinan wanita dewasa terjangkit infeksi vagina adalah 83%.
2. 62 % dari statistik tsb disebabkan oleh pemakaian pembalut yang kurang berkualitas.
3. Rata-rata setiap wanita memerlukan sedikitnya 2-6 hari sebulan untuk perawatan thd infeksi vagina.
4. Jika seorang wanita mulai terjangkit infeksi vagina sejak umur 20 th, sedikitnya 6 tahun waktu hidupnya akan dihabiskan hanya untuk proses pengobatan dan perawatan infeksi. Anda punya masalah keputihan/ kista/ myom/kanker payudara, kanker serviks ataupun kanker rahim.

Jadi sebagai kaum hawa sebaiknya kita juga rajin memeriksakan diri kita contoh kecilnya ikut program pemerintah melalui Pap Smear. Atau biasakn diri anda untuk memulai hidup sehat, tdak menjajakan seks sembarangan dan selalu mendekatkan diri kepada-NYa. Karena sedikit kenikmatan di dunia ini berakibat fatal bagy kehidupan akherat kita kelak. Subhanallah percayalah bahwa orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula begitu pula sebaliknya (seperti saya) amiiieeen....tuh tadi bagy kaum yang belum menderita namun bagy penderita kanker tersebut jganlah berputus asa masih bnyk hal yang perlu kita pikirkan daripada keterpurukan yang mendera kita.

Rabu, 09 Februari 2011

KERATON YOGYAKARTA


Gedhong Kaca, Museum Hamengku Buwono IX Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.[1]
Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman[3].
Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan)[4][5]. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.